Selasa, 24 Februari 2009

Aplikasi askep keluarga dengan pendekatan Transkultural

APLIKASI ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
DENGAN PENDEKATAN KEPERAWATAN TRANSKULTURAL

OLEH :
HIDAYATUS SYA’DIYAH, S.Kep.,Ns


BAB 1
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Asuhan Keperawatan merupakan pelayanan keperawatan yang diberikan kepada pasien baik individu, kelompok, keluarga dan mayarakat dalam keadaan sehat dan sakit secara holistik (biologi, psikologi, sosial, spiritual dan kultural) dalam rentang kehidupan dengan pendekatan proses keperawatan (pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi). Asuhan keperawatan yang diberikan dapat berupa asuhan keperawatan medikal bedah, anak, maternitas, jiwa, gawat darurat, keluarga, komunitas dan gerontik.
Asuhan Keperawatan Keluarga adalah asuhan keperawatan yang tidak kalah penting untuk dibahas, karena asuhan keperawatan keluarga merupakan bagian dari asuhan keperawatan komunitas dimana keluarga merupakan bagian terkecil dari masyarakat yang terdiri dari individu dan kelompok. Keberhasilan kesehatan atau keperawatan keluarga merupakan salah satu tolok ukur dari keberhasilan kesehatan atau keperawatan di komunitas.
Di dalam keluarga terjadi interaksi antar budaya, adaptasi serta mempertahankan budaya dimana budaya merupakan keyakinan atau perilaku yang diturunkan atau diajarkan manusia kepada generasi berikutnya. Karakteristik budaya dapat digambarkan sebagai berikut : (1) budaya adalah pengalaman yang bersifat universal sehingga tidak ada budaya yang sama persis, (2) budaya bersifat stabil, tetapi juga dinamis karena budaya tersebut diturunkan kepada generasi berikutnya sehingga mengalami perubahan dan (3) budaya diisi dan ditentukan oleh kehidupan manusianya sendiri (Leininger, 1978)
Dari fenomena diatas dapat dilihat bahwa asuhan keperawatan keluarga tidak lepas dari budaya atau transkultural yang selalu dapat mempengaruhi hasil dari pengkajian asuhan keperawatan keluarga sehingga perlu menelaah kembali asuhan keperawatan keluarga mulai dari pengkajian, penentuan diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi sampai dengan evaluasi dengan pendekatan transkultural sehingga dapat meningkatkan kemampuan keterampilan profesional yang meliputi kemampuan intelektual, teknikal dan interpersonal dalam melaksanakan asuhan keperawatan khususnya dalam keluarga. Dalam makalah ini akan membahas asuhan keperawatan keluarga dengan pendekatan transkultural secara teori, aplikasi di lapangan sampai dengan kesenjangan antara teori dan lapanan.

2.2 Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata ajar Health Assessmen dalam pengkajian keperawatan keluarga.

2.3 Sistematika penulisan
Makalah ini terdiri dari empat bab yang meliputi :
Bab 1 berupa Pendahuluan yang berisi latar belakang, tujuan penulisan dan sistematika penulisan
Bab 2 Tinjauan pustaka pengkajian asuhan keperawatan keluarga dengan pendekatan transkultural dan formatnya
Bab 3 berisi Tinjauan kasus beserta gambaran proses pengkajian yang telah dilakukan
Bab 4 Pembahasan
Bab 5 Kesimpulan dan Saran


BAB 2
TINJAUAN TEORI

Pada Bab 2 ini akan diuraikan Konsep asuhan keperawatan keluarga, Proses keperawatan keluarga, Format Asuhan Keperawatan Keluarga, Keperawatan transkultural, keperawatan transkultural pada keluarga Sunda.
2.1 Konsep Askep Keluarga
2.1.1 Definisi askep keluarga
1. Rangkaian kegiatan yg diberikan mll praktek kep dgn keluarga sbg sasarannya
2. Bertujuan menyelesaikan msl kes yg dialami klg dgn pendekatan proses keperawatan
2.1.2 Tujuan
1. Tujuan umum
ditingkatkannya kemampuan klg dlm mengatasi msl kesnya scr mandiri
2. Tujuan khusus
ditingkatkannya kemampuan klg :
a. Mengenal msl kes keluarga
b. Memutuskan tindakan yg tepat utk mengatasi msl kes anggt klg
c. Melakukan tindakan perawatan kes yg tepat kpd anggt klg yg sakit
d. Memelihara/memodifikasi lingk klg (fisik, psikis, sosial) shg dpt meningkatkan kes klg
e. Memanfaatkan sbr daya yg ada di masy (fasilitas yankes)
2.1.3 Sasaran
1. Keluarga yg rawan msl kes
2. Klg yg mempmsl kes/yg beresiko thd timbulnya msl kes
2.1.4 Persiapan yg hrs dilakukan sebelum melaksanakan askep keluarga
1. Menetapkan klg yg menjadi sasaran kunjungan serta menentukan kasus yg akan ditindaklanjuti di rmh (mll seleksi kasus di puskesmas/posyandu ssi prioritas
2. Menetapkan jadwal kunjungan :
a. Membuat jadwal kunjungan & identitas klg yg akan dikunjungi
b. Membuat kesepakan dgn klg ttg wkt kunjungan & kehadiran anggt klg pengambil keputusan
3. Menyiapkan perlengkapan lap yg dibutuhkan :
a. Mempelajari riwayat kesehatan klg di puskesmas/ yankes lainnya
b. Membuat catatan singkat ttg msl klg sbg bahan kajian
c. Formulir/catatan pengkajian & catatan lain yg diperlukan
d. Kit phn yg berisi peralatan & obat2an sederhana
e. Abp (alat bantu penyuluhan)

2.2 Proses keperawatan keluarga
2.2.1 tahapan proses keperawatan keluarga
1. Pengkajian
1. Definisi pengkajian :
1) Mengumpulkan informasi secara terus menerus tentang keluarga
2) Utk mendptkan hsl yg akurat & ssi dgn keadaan klg, perawat should be melakukan komunikasi dgn menggunakan bhs “ibu” (sehari-hari), lugas & sederhana
2. Beberapa langkah dalam kegiatan pengkajian yg perlu dilakukan :
1) Membina hubungan yg baik (perkenalan dengan sopan, jelaskan tujuan, yakinkan kehadiran perawat untuk membantu, jelaskan luas/batasan kesanggupan perawat, jelaskan tim kesehatan yang menjadi jaringan perawat
2) Pengkajian awal (fokus sesuai data yang didapat dari unit pelayanan kesehatan)
3) Pengkajian lanjutan (mendapatkan data lengkap sesuai masalah kesehatan yang terjadi pada keluarga, mengungkap keadaan keluarga hingga penyebab dari masalah kesehatan yang mendasar
4) Perbandingan, ukuran/penilaian mengenai keadaan keluarga dengan menggunakan norma, nilai, prinsip, aturan, harapan, teori dan konsep yang berkaitan dengan permasalahan
3. Tahapan :
1) Pengumpulan data
2) Analisa data
3) Prioritas masalah
4. Pengumpulan data
1) Dpt dilakukan dgn menggunakan metode :
a) Wawancara
b) Observasi fasilitas rumah
c) Pemeriksaan fisik setiap anggota keluarga
d) Studi dokumentasi
e) Data sekunder
2) Data yg diperoleh dari pengumpulan data
a) Berkaitan dengan keluarga
(1) Data demografi dan sosiokultural
1. Nama kepala keluarga
2. Alamat dan telepon
3. Pekerjaan
4. Pendidikan
5. Komposisi keluarga
6. Genogram
Komposisi keluarga dibuat genogram (3 generasi)
Aturan dlm pembuatan genogram :
– Anggt klg yg lebih tua berada lebih kiri
– Umur anggt klg ditulis dlm simbol laki2 / perempuan
– Tahun & penyebab kematian ditulis di sebelah simbol laki2 / perempuan
- Menggunakan simbol2 yg sudah umum digunakan

7. Tipe keluarga (menjelaskan jenis/tipe keluarga)
8. Suku bangsa (asal/suku bangsa keluarga)
9. Agama
10. Status social ekonomi keluarga (ditentukan oleh pendapatan kepala keluarga dan anggota keluarga lain, kebutuhan-kebutuhan yang dikeluarkan oleh keluarga)
11. Aktivitas rekreasi keluarga

(2) Data lingkungan
1. Karakteristik rumah (luas, tipe, jml ruangan, pemanfaatan ruangan, ventilasi, peletakan perabot, sarana pembuangan limbah & keb mck, sarana air minum) + gbrkan denah rumah
2. Karakteristik tetangga & komunitas (kebiasaan : lingk fisik, nilai/norma/aturan/kesepakatan, budaya yg mempengaruhi kes)
3. Mobilitas geografis keluarga (perpindahan klg & anggt klg/ada klg yg tinggal jauh & sering bkunjung)
4. Perkumpulan klg & interaksi dgn masy (wkt yg digunakan klg utk berkumpul serta perkumpulan klg yg ada & sejauh mana klg berinteraksi dgn masy sekitar)
5. Sistem pendukung keluarga (jml anggt klg yg sehat, fasilitas klg yg menunjang kes = askes, jamsostek, kartu sehat, asuransi, & fasilitas fisik yg dimiliki anggt klg=peralatan kes, dukungan psikologis anggt klg/masy, fasilitas sosial yg ada disekitar klg yg dpt digunakan utk meningkatkan upaya kes

(3) Struktur & fungsi keluarga
1. Struktur keluarga
a. Struktur peran
b. Nilai/norma Keluarga
c. Pola Komunikasi klg
d. Struktur Kekuatan klg
2. Fungsi keluarga
a. Fungsi ekonomi
b. Fungsi mendptkan Status sosial
c. Fungsi sosialisasi
d. Fungsi pemenuhan Kesehatan
e. Fungsi religius
f. Fungsi rekreasi
g. Fungsi reproduksi
h. Fungsi afeksi

(4) Stress dan koping keluarga yang digunakan
1. Stressor jangka pendek dan panjang
a. Jangka pendek : stressor yg dialami keluarga dan memerlukan waktu penyelesaian + 6 bulan
b. Jangka panjang : stressor yg dialami keluarga dan memerlukan waktu penyelesaian lebih dari 6 bln
2. Strategi koping yg digunakan klg
(5) Tahap perkembangan keluarga
1. Tahap perkembangan keluarga saat ini
2. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
3. Riwayat kesehatan keluarga inti
4. Riwayat kesesehatan keluarga sebelumnya (generasi diatasnya, riwy peny keturunan, upaya penanganan peny, & upaya kes yg dipertahankan
b) Berkaitan dgn individu sbg anggt klg baik fisik, mental, emosi, sosial & spiritual
n Pemeriksaan kesehatan
– Dilakukan pada setiap anggota keluarga
– Meliputi pengkajian kebutuhan dasar individu, pemeriksaan fisik, & pemeriksaan penunjang yang perlu
n Harapan keluarga
5. Diagnosa keperawatan
a. Pengelompokan data
1) Keg ini = analisa & sintesa pd askep klinik.
2) Perawat mengelompokkan data hasil pengkajian dlm data subjektif (ds) & data objektif (do) utk setiap kelompok diagnosa keperawatan
b. Perumusan diagnosa keperawatan
1) Perumusan dx dpt diarahkan pd individu dan atau keluarga
2) Komponen diagnosa meliputi :
(a). Masalah ( problem : p )
Suatu pernyataan tidak terpenuhinya kebutuhan yang dialami oleh keluarga / anggota keluarga
(b). Penyebab ( etiologi : e )
suatu pernyataan yang dapat menyebabkan masalah dengan mengacu pada 5 tugas keluarga bidang kesehatan

(c). Tanda ( sign : s )
sekumpulan data subyektif dan data obyektif yang didapat perawat dari keluarga secara langsung/tidak langsung

c. Tipologi diagnosa keperawatan keluarga
1) Diagnosa aktual
masalah keperawatan yang sedang dialami oleh keluarga dan memerlukan bantuan dari perawat dengan cepat
2) Diagnosa resiko/resiko tinggi
masalah belum teratasi tetapi tanda untuk menjadi masalah aktual dapat terjadi dengan cepat apabila tidak segera mendapat bantuan
3) Diagnosa potensial
suatu keadaan sejahtera/ penunjang kesehatan yang memungkinkan dapat ditingkatkan

d. Contoh perumusan diagnosa keperawatan keluarga
1) Aktual
a) Gangguan kebutuhan istirahat dan tidur pada Ny .B berhubungan dengan ketidak mampuan keluarga memodifikasi lingkungan yang nyaman untuk istirahat dan tidur
b) Perubahan peran menjadi orang tua tunggal pada Tn. L berhubungan dengan ketidak mampuan keluarga mengenal msl peran ortu tunggal stl istrinya meninggal
c) Gangguan pemenuhan kebutuhan aktivitas motorik pada An. W berhubungan dengan ketidak mampuan keluarga memodifikasi (menata) lingkungan yang aman untuk latihan berjalan bagi An. W
2) Resiko/resiko tinggi
a) Resiko terjadi serangan ulang asma pada Ny. T berhubungan dengan ketidak mampuan keluarga mengenal masalah asma yang terjadi pada Ny. T
b) Resiko tinggi gangguan perkembangan pada balita A berhubungan dengan ketidak mampuan keluarga melakukan stimulasi pada balita
c) Resiko tinggi konflik antara orang tua dan remaja berhubungan dengan ketidak mampuan keluarga mengenal masalah komunikasi yang tepat pada anak remaja
3) Potensial/wellness/sejahtera
a) Potensial tumbuh kembang yang optimal bagi An. R keluarga Tn. G
b) Potensial peningkatan status kesehatan balita Tn JK
e. Penyusunan prioritas diagnosa keperawatan
1) Prioritas didasarkan pada diagnosa keperawatan yang mempunyai jumlah skor tertinggi berurutan sampai yang mempunyai jumlah skor terendah
2) Perhatikan juga persepsi keluarga

6. Perencanaan
a. Perencanaan keperawatan mencakup : tujuan umum dan khusus yang didasarkan pada masalah yang dilengkapi dengan kriteria dan standar yang mengacu pada penyebab
b. Merumuskan tindakan keperawatan yang berorientasi pada kriteria dan standart
c. Rencana tindakan keperawatan terhadap keluarga, meliputi kegiatan yang bertujuan :
1) Menstimulasi kesadaran/penerimaan keluarga mengenai masalah dan kebutuhan kesehatan dengan cara
a) memberikan informasi yg tepat
b) mengidentfkan kebutuhan dan harapan keluarga tentang kesehatan
c) mendorong sikap emosi yg mendukung upaya kesehatan
2) Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang tepat, dengan cara :
a) mengidentifikasi konsekuensinya bila tidak melakukan tindakan
b) mengidentifikasi sumber-sumber yang dimiliki dan ada di sekitar keluarga
c) mendiskusikan tentang konsekuensi tipe tindakan
3) Memberi penjelasan selama merawat anggota keluarga yang sakit, dengan cara :
a) mendemonstrasikan cara perawatan
b) - menggunakan alat dan fasilitas yang ada di rmh
c) mengawasi keluarga melakukan perawatan
4) Membantu keluarga untuk memelihara (memodifikasi) lingkungan yang dapat meningkatkan kesehatan keluarga, dengan cara :
a) menemukan sumber-sumber yang dapat digunakan keluarga
b) melakukan perubahan lingkungan bersama keluarga seoptimal mungkin
5) Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada di sekitarnya, dgn cara :
a) menggunakan fasilitas kesehatan yang ada di sekitar lingkungan keluarga
b) membantu keluarga menggunakan fasilitas kesehatan yang ada
d. Hal penting dalam penyusunan rencana askep
1) Tujuan hendaknya logis, sesuai masalah, dan mempunyai jangka waktu yang sesuai dengan kondisi klien
2) Kriteria hasil hendaknya dapat diukur dengan alat ukur dan diobsers dengan panca indra perawat yang objektif
3) Rencana tindakan disesuaikan dengan sumber daya dan dana yang dimiliki oleh keluarga dan mengarah ke kemandirian klien sehingga tingkat ketergantungan dapat diminimalisasikan

7. Pelaksanaan
a. Perawat sebaiknya tidak bekerja sendiri tetapi melibatkan secara integrasi semua profesi kesehatan yang menjadi tim perawatan kesehatan di rumah.
b. Peran perawat yang dilaksanakan adalah sebagai koordinator.
c. Namun perawat juga dapat mengambil peran sebagai pelaksana askep
d. Perawat perlu melakukan kontrak sebelumnya (saat mensosialisasikan diagnosa keperawatan) untuk pelaksanaan yg meliputi :
1) kapan dilaksanakan
2) berapa lama waktu yang dibutuhkan
3) materi/topik yang didiskusikan
4) Siapa yang melaksanakan
5) Anggota keluarga yang perlu mendapat informasi (sasaran langsung implementasi)
6) Kalau perlu peralatan disiapkan
e. Kegiatan diatas bertujuan agar keluarga dan perawat mempunyai kesiapan secara fisik dan psikologis pada saat implementasi
f. Langkah selanjutnya adalah implementasi sesuai dengan rencana, dimana didahului dengan membuat janji dengan keluarga bahwa akan dilakukan implementasi sesuai kontrak
g. Implementasi dapat dilakukan oleh : klien sendiri (anggota keluarga), perawat, anggota tim perawatan (kesehatan), keluarga lain (extended), dan orang lain yg masuk dalam jaringan kerja keperawatan keluarga

8. Evaluasi
a. Merupakan kegiatan yang membandingkan antara hasil implementasi dengan kriteria dan standart yang telah ditetapkan untuk melihat keberhasilan.
b. Bila evaluasi tidak / kurang berhasil / berhasil sehingga perlu disusun rencana keperawatan yang baru.
c. Pada tahap ini evaluasi yang dilaksanakan meliputi :
1) Evaluasi formatif, untuk menilai hasil implementasi sacara bertahap sesuai dengan kegiatan yang dilakukan sesuai kontrak pelaksanaan
2) Evaluasi sumatif, untuk menilai secara keseluruhan terhadap pencapaian dx. Kprwtapakag rencana dilanjtkan, diteruskan sebagaian, diteruskan dangan perubahan intervensi, atau dihentikan


2.3 Format Asuhan Keperawatan Keluarga


FORMAT ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
STIKES HANG TUAH SURABAYA



A. PENGKAJIAN (Tanggal :…………)

I. Data Umum
1. Kepala Keluarga : ………………………………………………………………….
2. Alamat Dan Telepon : ………………………………………………………………….
3. Pekerjaan KK : ………………………………………………………………….
4. Pendidikan KK : ………………………………………………………………….
5. Komposisi Keluarga : ………………………………………………………………….
6. Type Keluarga :…………………………………………………………………..
7. Suku Bangsa :………………………………………………………………......
8. Agama : ………………………………………………………………….
9. Status Sosial Ekonomi : ………………………………………………………………….
10. Aktivitas Rekreasi Keluarga
…………………………………………………………………………………….………………………………………………………………………………………………………….
II. Riwayat Dan Tahap Perkembangan Keluarga
11. Tahap perkembangan keluarga saat ini …………………………………………………………………………………….……………………………………………………………………………………..............................
12. Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
…………………………………………………………………………………….………………………………………………………………………………………………………….
13. Riwayat kesehatan keluarga inti
…………………………………………………………………………………….………………………………………………………………………………………………………….
14. Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya
…………………………………………………………………………………….………………………………………………………………………………………………………….

III. Data Lingkungan
15. Karakteristik rumah :


Denah rumah :



16. Karakteristik tetangga dan komunitasnya : ………………………………………………………………………………………………..
17. Mobilitas geografis keluarga :
…………………………………………………………………………………………….....
18. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat :
....................................................................................................................................
19. Sistem pendukung keluarga :
………………………………………………………………………………………………..

IV. Struktur Keluarga
20. Struktur peran :
………………………………………………………………………………………………..
21. Pola komunikasi keluarga:
………………………………………………………………………………………………..
22. Struktur kekuatan keluarga :
………………………………………………………………………………………………..
23. Fungsi ekonomi :
………………………………………………………………………………………………..

V. Fungsi Keluarga
24. Fungsi mendapatkan status social :
………………………………………………………………………………………………..
25. Fungsi pendidikan :
………………………………………………………………………………………………..
26. Fungsi sosialisasi :
………………………………………………………………………………………………..
27. Fungsi pemenuhan (perawatan / pemeliharaan) kesehatan
a. Mengenal masalah kesehatan :
……………………………………………………………………………………………
b. Mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan :
..............................................................................................................................
c. Kemampuan merawat anggota keluarga yang sakit :
..............................................................................................................................
d. Kemampuan keluarga memelihara / memodifikasi lingkungan rumah yang sehat :
..............................................................................................................................
e. Kemampuan menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan :
..............................................................................................................................
28. Fungsi religius :
………………………………………………………………………………………………..
29. Fungsi rekreasi :
………………………………………………………………………………………………..
30. Fungsi reproduksi :
………………………………………………………………………………………………..
31. Fungsi afeksi :
………………………………………………………………………………………………..

VI. Stress Dan Koping Keluarga
32. Stressor jangka pendek dan panjang :
....................................................................................................................................
33. Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor :
………………………………………………………………………………………………..
34. Strategi koping yang digunakan :
………………………………………………………………………………………………..
35. Strategi adaptasi disfungsional :
....................................................................................................................................

VII. Pemeriksaan Kesehatan Tiap Individu Anggota Keluarga
………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………..
VIII. Harapan Keluarga
………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………..


B. DIAGNOSIS KEPERAWATAN KELUARGA

I. Analisis Dan Sintesis Data
II. Perumusan Diagnosis Keperawatan
III. Penilaian (Skoring) Diagnosis Keperawatan
IV. Prioritas Diagnosis Keperawatan


C. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
Diagnosis keperawatan : ……………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………..

Tujuan
Kriteria
Hasil /standart
Intervensi

D. IMPLEMENTASI

E. EVALUASI

2.4 Keperawatan Transkultural
1. Konsep Etnik dan Budaya
Etnik adalah seperangkat kondisi spesifik yang dimiliki oleh kelompok tertentu (kelompok etnik). Sekelompok etnik adalah sekumpulan individu yang mempunyai budaya dan sosial yang unik serta menurunkannya ke generasi berikutnya (Handerson, 1981). Etik berbeda dengan ras (race). Ras merupakan sistem pengklasifikasian manusia berdasarkan karakteristik fisik pigmentasi, bentuk tubuh, bentuk wajah, bulu pada tubuh dan bentuk kepala. Ada tiga jenis ras yang umumnya dikenal, yaitu Kaukasoid, Negroid, Mongoloid.
Budaya adalah keyakinan dan perilaku yang diturunkan atau diajarkan manusia kepada generasi berikutnya (Taylor, 1989). Budaya adalah sesuatu yang kompleks yang mengandung pengetahuan,keyakinan, seni, moral, hukum, kebiasaan, dan kecakapan lain yang merupakan kebiasaan manusia sebagai anggota kemunitas setempat.
Kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar, beserta keselurahan hasil budi dan karyanya dan sebuah rencana untuk melakukan kegiatan tertentu (Leininger, 1991).
Menurut konsep budaya Leininger (1978, 1984), karakteristik budaya dapat digambarkan sebagai berikut : (1) Budaya adalah pengalaman yang bersifat universal sehingga tidak ada dua budaya yang sama persis, (2) budaya yang bersifat stabil, tetapi juga dinamis karena budaya tersebut diturunkan kepada generasi berikutnya sehingga mengalami perubahan, (3) budaya diisi dan ditentukan oleh kehidupan manusianya sendiri tanpa disadari.
2. Pengertian Transkultural
Transkultural adalah suatu pelayanan keperawatan yang berfokus pada analisis dan studi perbandingan tentang perbedaan budaya (Leininger, 1978). Keperawatan transkultural adalah ilmu dan kiat yang humanis, yang difokuskan pada perilaku individu atau kelompok, serta proses untuk mempertahankan atau meningkatkan perilaku sehat atau perilaku sakit secara fisik dan psikokultural sesuai latar belakang budaya. Pelayanan keperawatan transkultural diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang budayanya.
3. Tujuan keperawatan Transkultural
Tujuan penggunaan keperawatan transkultural adalah untuk mengembangkan sains dan pohon keilmuan yang humanis sehingga tercipta praktik keperawatan pada kultur yang spesifik dan universal. Kultur yang spesifik adalah kultur dengan nilai-nilai norma spesifik yang tidak dimiliki oleh kelompok lain, seperti bahasa. Sedangkan kultur yang universal adalah nilai atau norma yang diyakini dan dilakukan hampir oleh semua kultur seperti budaya berolahraga membuat badan sehat, bugar; budaya minum teh dapat membuat tubuh sehat (Leininger, 1978).
Dalam melaksanakan praktikkeperawatan yang bersifat humanis, perawat perlu memahami landasan teori dan praktik keperawatan yang berdasarkan budaya. Budaya yang telah menjadi kebiasaan tersebut diterapkan dalam asuhan keperawatan transkultural, melalui 3 strategi utama intervensi, yaitu mempertahankan, bernegosiasi dan merestrukturisasi budaya.
4. Paradigma keperawatan transkultural
Paradigma keperawatan transkultural adalah cara pandang, persepsi, keyakinan, nilai-nilai dan konsep dalam pelaksanaan asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap 4 konsep sentral, yaitu manusia, keperawatan, kesehatan, dan lingkungan (Leininger, 1978).
a. Manusia
Manusia adalah individu atau kelompok yang memiliki nilai dan norma yang diyakini bergua untuk menetapkan piihan da melakukan tindakan, manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan budayanya setiap saat dan dimanapun dia berada.
Klien yang dirawat di rumah sakit harus belajar budaya baru, yaitu budaya rumah sakit, selain membawa budayanya sendiri. Klien secara aktif memilih budaya dari lingkungan, termasuk perawat dan pengunjung. Klien yang sedang dirawat belajar agar cepat pulih dan segera pulang untuk memulai aktifitas yang lebih sehat.


b. Kesehatan
Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam mengisi kehidupannya yang terletak pada rentang sehat sakit (Leininger, 1984) dan merupakan suatu keyakinan, nilai, pola kegiatan yang dalam konteks budaya digunakan untuk mrnjaga dan memelihara keadaaan seimbang/sehat, yang dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari.
Asuhan keperawatan yang diberikan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan klien untuk memilih secara aktif budaya yang sesuai dengan status kesehatannya dan klien harus mempelajari lingkungannya.
c. Lingkungan
Lingkungan adalah keseluruhan fenomena yang mempengaruhi perkembangan, keyakinan dan perilaku klien. Lingkungan dipandang suatu totalitas kehidupan dan budayanya baik berupa lingkungan fisik, sosial dan simbolik.
Lingkungan fisik adalah lingkungan alam yang diciptakan oleh manusia seperti pegunungan, pemukiman padat, bentuk rumah daerah panas (banyak lubang), bentuk rumah daerah dingin (eskimo) dll.
Lingkungan sosial adalah keseluruhan struktur sosial yang berhubungan dengan sosialisasi individu atau kelompok ke dalam masyarakat yang lebih luas seperti keluarga, komunitas dan masjid atau gereja.
Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk atau simbol yang menyebabkan individu atau kelompok merasa bersatu, seperti musik, seni, riwayat hidup, bahasa, atau atribut yang digunakan (kalung,anting, hiasan dinding, ikat kepala, baju atau slogan-slogan)
d. Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan dalam praktik keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang budayanya. Strategi yang digunakan dalam intervensi dan impelemnatasi keperawatan keluarga adalah mempertahankan, mnegosiasi, dan merestrukturisasi budaya klien.

2.5 Keperawatan Transkultural Pada Keluarga Sunda
1. Sejarah perkembangan keluarga Sunda
Keluarga dalam masyarakat Sunda sebenarnya memiliki dua pengertian, yaitu keluarga dengan pengertian sempit dan pengertian luas. Keluarga dalam pengertian empit berarti keluarga inti atau batih, sedangkan keluarga dalam pengertian luas berarti sanak saudara yang mempunyai ikatan keluarga karena pertalian darah dan perkawinan. Satu keluarga besar disebut sabondoyot atau sakulawedet. Sistem kekerabatan orang Sunda bersifat parental atau bilateral yaitu hak dan kedudukan anggota keluarga dari pihak ayah maupun ibu.
Menurut penyelidikan Atmamiharja (1958), kata Sunda mempunyai arti sebagai berikut :
Sanskerta : Sunda artinya tenaga, bersinar, nama dewa Wisnu, nama satria buta dalam cerita ”Upa Sunda dan Ni Sunda”
Kawai : Sunda artinya air, tumpukan, pangkat, waspada
Jawa :Sunda berarti menyusu, berganda, suara, naik, terbang
Sunda : Sunda berarti bagus, indah, unggul, menyenangkan
2. Aspek Demografi
Penduduk usia kerja didefinisikan sebagai penduduk yang berusia 10 tahun atau lebih. Mereka terdiri dari angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Proporsi penduduk yang tergolong angkatan kerja dikenal sebagai tingkat patisipasi angkatan kerja. Keterlibatan penduduk dalam kegiatan ekonomi diukur dengan porsi penduduk yang masuk dalam pasar kerja (bekerja atau mencari pekerjaan).
Kesempatan kerja memberikan gambaran besarnya tingkat penyerapan pasar kerja sehingga sehingga angkatan kerja yang tidak terserap disebut pengangguran.
3. Aspek Psikososial
Perbedaan kelas sosial dalam keluarga Sunda antara lain :
Beberapa pengelompokan utama pada orang Sunda sebagai hasil sistem masyarakat didasarkan pada berbagai kriteria berikut :
• Berdasarkan tempat : Adanya beberapa orang Sunda pada berbagai tempat / daerah
• Berdasarkan keadaan materi : adanya lapisan masyaakat Sunda
• Berdasarkan prestise feodalistik : adanya orang Sunda bangsawan dan rakyat biasa, orang Sunda terpelajar dan tidak terpelajar
• Berdasarkan profesi mata pencaharian : pegawai negeri, pengusaha, petani, buruh, dan lain-lain.
4. Bentuk keluarga dalam sistem kekerabatan
Sistem kekerabatan orang Sunda bersifat parenta dan bilateral yang berarti hak dan kedudukan anggota keluarga dari pihak ayah dan ibu. Kedudukan suami-istri dalam perkawinan sederajat. Sistem kekerabatannya meliputi hubungan ke atas-ke bawah sampai tujuh tingkatan, dan juga ke samping. Dalam mencari pasangan hidup, stratifikasi sosial sangat berpengaruh. Umumnya memilih orang sederajat tingkat sosial dan garis keturunannya. Sebelumnya, orang tua lebih berperan dalam memilihkan jodoh bagi anak mereka dan selanjutnya anaklah yang menentukan pilihannya.
5. Aspek budaya
Budaya lebih terlihat pada jenis makanan yang disenangi oleh masyarakat Sunda seperti lalapan dan ikan yang dipandang sebagai makanan khas Sunda yang telah dikenal oleh orang-orang didalam dan luar negeri. Minuman khas orang Sunda diantaranya air bening / mineral, bandrek, bajigur, es cincau, dan tuak.
Bila kita telaah sajian makanan orang Sunda, kandungan lemaknya sedikit. Oleh karena itu anak-anak Sunda beresiko mengalami defisiensi vitamin yang larut dalam lemak (A, D, E, K)
6. Praktik kesehatan keluarga
Dalam praktik kesehatan, anggota keluarga Sunda menggunakan orang pintar (dukun). Hal ini masih mendominasi upaya menolong anggota keluarganya yang mengalami gangguan kesehatan. Selain ke dukun, biasanya ke kyai, selanjutnya apabila tidak sembuh-sembuh, biasanya mereka baru pergi ke petugas kesehatan.
Keluarga Sunda percaya bahwa apabila sakit lebih memilih membeli obat di warung atau pergi ke dukun yang dipercayai.Hal tersebut dipraktikkan olehkeluarga Sunda terutama keluarga golongan menengah ke bawah.


7. Implikasi keperawatan keluarga pada Etnik Sunda
Asuhan keperawatan keluarga pada etnik Sunda sebaiknya dilakukan dengan menggunakan pendekatan budaya (transkultural nursing). Pendekatan budaya dilakukan karena dipandang lebih sensitif. Pendekatan budaya bermakna bahwa asuhan keperawatan keluarga dimulai dari keinginan keluarga, kebiasan keluarga, sumber daya keluarga, dan nilai-nilai keluarga. Pelaksanaan asuhan keperawatan keluarga sebaiknya mengimpliasikan hal-hal berikut :
• Menghargai struktur dan sistem nilai yang dianut keluarga
• Batasan sehat sakit menurut keluarga
• Aktualisasi praktik kesehatan Sunda
• Meningkatkan keterbatasan regimen terapeutik keluarga Sunda


3.1 KASUS
Keluarga Tn. X (30 Tahun) mempunyai istri Ny. H (26 th) Anak Y (4 tahun) dan Anak K (1 tahun) serta Ny. C (50 th) . Tn. X berasal dari suku Sunda, sedangkan Ny. H berasal dari suku Jawa. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia. Hasil wawancara dengan keluarga, anaknya sudah diimunisasi lengkap sambil menunjukkan kartu sehat. Selama ini anaknya hanya sakit batuk pilek biasa, cukup dibelikan obat umum dan sembuh. Tetapi akhir-akhir ini keluarga sedikit pusing memikirkan ibunya , karena 3 bulan yang lalu ibunya dinyatakan positif kencing manis (DM), ibu hanya dibawa ke alternatif, tidak kontrol teratur ke puskesmas dan dibelikan obat ke toko terdekat untuk mengurangi gejala, misalnya nyeri di kakinya. Hasil observasi jari kaki ibu C sebelah kiri terdapat luka kecil sudah 3 minggu, belum sembuh. Pemeriksaan glukotest 200 mg/dl


3.2 ASUHAN KEPERAWATAN
3.2.1 Pengkajian (tanggal 12 Januari 2009)

A. Data Umum
1. Nama KK : Tn. X
2. U m u r : 30 tahun
3. Alamat : Jl. A No. 39 Surabaya
4. Pekerjaan : Swasta
5. Pendidikan : SMA
6. Komposisi Keluarga :

50Genogram. :
7. Tipe Keluarga : keluarga Inti.
8. Suku Bangsa : Tn. X berasal dari suku Sunda, sedangkan Ny. H berasal dari suku Jawa. Keyakinan yang dianut adalah berhubungan dengan pemahaman kepala keluarga membawa Ny. C ke pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pengobatan dan kontrol teratur untuk cek gula darahnya.
9. Agama : Islam
10. Status Sosial ekonomi keluarga : Suami – Isteri bekerja
11.Aktivitas rekreasi keluarga : Keluarga sesekali mengajak anak-anaknya ke alun-alun dan menonton TV di rumah dianggap sudah berekreasi

B. Riwayat Tahap Perkembangan Keluarga .
1. Tahap perkembangan saat ini. :
Keluarga berada pada tahap perkembangan keluarga dengan anak pra sekolah.
2. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi :
Tugas keluarga yang belum terpenuhi tidak ada
3. Riwayat kesehatan keluarga :
Anak-anak Tn. X sudah diimunisasi lengkap,jika sakit batuk pilek dibawa ke Bidan. Ibu C ( Mertua ) menderita DM sejak 3 bulan yang lalu tetapi tidak dapat kontrol secara teratur di Puskesmas karena tidak ada yang mengantarkannya. Kaki kiri Ibu C terdapat lula sudah 3 minggu belum sembuh.


C. Fungsi Keluarga.
Keluarga selalu memperhatikan kesehatan keluarganya, setiap anaknya sakit batuk, pilek dibelikan obat. Riwayat imunisasi anaknya sudah lengkap. Tetapi pemanfaatan sarana kesehtan ( Puskesmas) masih sangat kurang. Ibunya yang menderita DM hanya dibelikan obat di toko terdekat untuk mengurangi keluhan dan ibu tidak kontrol teratur ke Puskesmas. Hal ini karena kepala keluarga lebih percaya ke alternatif terlebih dahulu sebelum ke pelayanan kesehatan.

D. Stress dan Koping Keluarga.
1. Keluarga sedikit pusing memikirkan Ibunya, karena sejak 3 bulan yang lalu Ibunya dinyatakan positif menderita kencing manis (DM). Ibunya tidak kontrol dan pengobatan seadanya.
2. Kemampuan keluarga merespon terhadap stressor.
Keluarga hanya bias membeli obat meskipun obat-obatan umum.
3. Strategi koping yang digunakan.
Keluarga Tn. X membeli obat meskipun obat-obat umum

E. Pemeriksaan Fisik.
Pemeriksaan fisik dilakukan pada setiap anggota keluarga yang sakit. Pada Ibu C didapatkkan jari kaki sebelah kiri terdapat luka kecil dan sudah 3 minggu belum sembuh . Pemeriksaan glukotest 200 mg/dl.


3.2.2 Diagnosa Keperawatan

1. Analisa Data

D a t a
Masalah
Penyebab
Data Subyektif :
· Keluarga mengatakan sedikit pusing memikirkan Ibu C, karena sejak 3 bulan yang lalu ibu C dinyatakan positif kencing manis (DM).
· Keluarga mengatakan 3 minggu yang lalu jari kaki ibu C sebelah kiri terdapat luka kecil dan belum sembuh
Data Obyektif :
· Pada kaki ibu C sebelah kiri terdapat luka kecil dan belum sembuh.
· Hasil pemeriksaan glukotest 200 mg/dl.

Data Subyektif.
· Keluarga mengatakan ibu C dibawa ke alternatif dulu
· Keluarga mengatakan dibelikan obat di toko untuk mengurangi gejala misalnya nyeri
1. Resiko terjadinya kompilkasi menahun diabetes mellitus.
2. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit yang meluas.

















Perubahan pemeliharaan kesehatan ibu C






Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.

















Ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan .

2. Daftar Diagnosa Keperawatan.
1. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit yang meluas berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.
2. Resiko terjadinya komplikasi menahun diabetes mellitus ibu C keluarga Tn. X berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.
3. Perubahan pemeliharaan kesehatan ibu C berhubungan dengan Ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan


3. Skoring tiap diagnosa kepe
Diagnosa keperawatan. :
Resiko terjadinya komplikasi menahun diabetes mellitus Ibu C keluarga Tn, X.
No
Kriteria
Perhitungan
Skor
Pembenaran
1.







2.




3.





4.
Sifat masalah







Kemungkinan masalah dapat diubah.


Potensi masalah untuk dicegah.




Menonjolnya masalah.
2/3 x 1







2/2 x 2




2/3 x 1





2/2 x 1
2/3







2




2/3





1

Pada penderita DM bila tidak mendapat kan perawatan dan pengobatan secara teratur akan berdampak kepada koplikasi menahun DM.
Sumber dan tindakan dapat dijangkau oleh keluarga.

Keluarga mempunyai dana dan kemampuan intelektual bila diberikan penyuluhan tentang penyakit DM.

Keluarga menyadari adanya masalah tetapi kurang menyadari dampak bila anggota keluarga yang sakit tidak dikontrol secara teratur.

Keluarga menyadari adanya masalah tetapi budaya menganggap bahwa itu hal yang biasa

Total skor

4 1/3







Diagnosa Keperawatan.:
Resiko tinggi kerusakan integritas kulit yang meluas

No
Kriteria
Perhitungan
Skor
Pembenaran
1.




2.



3.



4.
Sifat masalah




Kemungkinan masalah dapat diubah.

Potensi untuk mencegah masalah.

Menonjolnya masalah.
3/3 x 1




2 / 2 x 2



2/3/ x 1



2/2 x 1
1




2



2/3



1
Luka pada penderita DM bila tidak dirawat dengan baik dan benarakan menjadi infeksi yang meluas (gangren).

Alat untuk perawatan luka dapat dijangkau oleh keluarga.


Perluasan luka dapat dicegah dengan perawatan luka yang benar.

Keluarga menyadari adanya masalah tetapi budaya menganggap bahwa itu hal yang biasa.


Total
4 2/3












Diagnosa Keperawatan.:
Perubahan pemeliharaan kesehatan Ibu C
No
Kriteria
Perhitungan
Skor
Pembenaran
1.



2.



3.



4.
Sifat masalah



Kemungkinan masalah dapat diubah.

Potensi untuk mencegah masalah.

Menonjolnya masalah.
3/3 x 1



1 / 2 x 2



1/3 x 1



1/2 x 1
1



1



1/3



1
Keluarga tetap membelikan obat meskipun obat umum untuk mengurangi keluhan

Fasilitas toko obat dekat dengan rumah .


Keluhan dapat dicegah dengan minum obat tertatur


Keluarga menyadari adanya masalah tetapi budaya menganggap hal yang sewajarnya


Total
3 1/3


4. Prioritas Diagnosa keperawatan.
1. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit yang luas Ibu C berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit
2. Resiko terjadinya komplikasi menahun diabetes mellitus. berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit
3. Perubahan pemeliharaan kesehatan Ibu C berhubungan dengan Ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan



3.2.3 Perencanaan.
NO

1 .
Diagnosa Keperawatan
Resiko tinggi kerusakan integrira kulit yang luas
T u j u a n
Kriteria Evaluasi
Kriteria Intervensi
Umum
Khusus
Kriteria
Standar

Setelah dilakukan tindakan keperawatan,tidak terjadi perluasan luka dikaki kiri Ibu C.
1. Ibu C dapat kontrol teratur untuk DM dan luka pada kaki kiri.
2. Ibu C dapat menyebutkan bila luka dikaki sembuh ( berangsur ).
3. Keluarga dapat membagi peran untuk perawatan kesehatan Ibu C.
1. Verbal
(Pengetahuan)
1. Keluarga dapat menyebutkan tanda dan gejala meluasnya luka infeksi dikaki Ibu C
2. Keluarga dapat mengidentifikasi tanda-tanda meluasnya luka infeksi dikaki Ibu C
3. Keluarga dapat memutuskan tindakan bila ada tanda meluasnya luka infeksi.
1. Kaji pengetahuan keluarga tentang-tanda infeksi
2. Kaji kemampuan keluarga dalam merawat luka infeksi kaki Ibu C.
3. Kaji tindakan keluarga yang pernah dilakukan setelah mengetahui ada luka dikaki Ibu C
4. Diskusikan tanda-tanda Infeksi dengan keluarga
5. Diskusikan dengan keluarga cara perawatan luka dan mencegah perluasan
6. Diskusikan alternatif yang dapat dilakukan untuk mengontrolll keadaan luka






7. Beri kesempatan keluarga untuk menanykan penjelasan yang belum dimengerti.
8. Evaluasi secara singkat terhadap topikuntuk mencegah meluasnya infeksi pada keluarga
9. Berikan pujian terhadap kemampuan keluarga yang diungkapkan setiap diskusi.





2.Psikomotor (Prilaku)
1. Keluarga dapat menyiapkan sarana perawatan yang diperlukan oleh Ibu C
2. Ibu dapat minum obat dengan pengawasan dokter
3. keluarga dapat memfasilitasi Ibu C untuk kontrol DM ke puskesmas
4. Keluarga dapat memodifikasi diet dan olah raga untuk kesehatan Ibu C.
1. Kaji kemampuan keluarga untuk menyediakan sarana perawatan Ibu C
2. Ajarkan cara memelihara kebersihan luka Ibu C
3. Ajarkan cara merawat luka Ibu C
4. Ajarkan dan anjurkan untuk Cekkondisi Ibu C dan minum obat setelah ada hasil cek dari dokter.
5. Anjurkan menjaga kebersihan rumah terutama ruangan Ibu C
6. Anjurkan untuk memodifikasi diet diabetes sesuai advis dokter
7. Kolaborasikan ke puskesmas untuk bantuan
8. Lakukan kunjungan rumah setelah keluarga diberi pendidikan
9. Beri pujian atas kemampuan keluarga
10. Berikan penguatan terhadap perilaku yang telah dilakukan untuk dipertahankan setiap hari.









3.2.4 IMPLEMENTASI

No. tanggal &waktu
Diagnosis Keperawatan
Implementasi
15 Januari 2009
pukul 16.00 WIB














16 Januari 2009
pukul 18.30 WIB
Resiko tinggi kerusakan integrira kulit yang luas
1. Melakukan bina hubungan saling percaya dengan keuarga
2. Mengkaji ulang pengetahuan keluarga tentang-tanda infeksi
3. Mengkaji ulang kemampuan keluarga dalam merawat luka infeksi kaki Ibu C.
4. Mengkaji ulang tindakan keluarga yang pernah dilakukan setelah mengetahui ada luka dikaki Ibu C
5. Mendiskusikan tanda-tanda Infeksi dengan keluarga
6. Mendiskusikan dengan keluarga cara perawatan luka dan mencegah perluasan
7. Mendiskusikan alternatif yang dapat dilakukan untuk mengontrol keadaan luka
8. Memberi kesempatan keluarga untuk menanyakan penjelasan yang belum dimengerti.
9. Mengevaluasi secara singkat terhadap topik untuk mencegah meluasnya infeksi pada keluarga
10. Memberikan pujian terhadap kemampuan keluarga yang diungkapkan setiap diskusi

1. Mengkaji ulang kemampuan keluarga untuk menyediakan sarana perawatan Ibu C
2. Mengajarkan cara memelihara kebersihan luka Ibu C
3. Mengajarkan cara merawat luka Ibu C
4. Mengajarkan dan anjurkan untuk Cek kondisi Ibu C dan minum obat setelah ada hasil cek dari dokter.
5. Menganjurkan menjaga kebersihan rumah terutama ruangan Ibu C
6. Menganjurkan untuk memodifikasi diet diabetes sesuai advis dokter
7. Melakukan kolaborasi ke puskesmas untuk bantuan medis
8. Melakukan kunjungan rumah setelah keluarga diberi pendidikan
9. Memberi pujian atas kemampuan keluarga
10. Memberikan penguatan terhadap perilaku yang telah dilakukan untuk dipertahankan setiap hari.

3.2.5 EVALUASI

Prioritas
No Dx keperawatan
Evaluasi
1
Resiko tinggi kerusakan integrira kulit yang luas
S : Keluarga megatakan luka di kaki Ibunya berangsur membaik
O : Luka bersih, tidak ada nanah, diameter 1 cm, kemerahan di sekitar luka
A : Masalah teratasi sebagian karena luka masih kemerahan
P : Rencana dilanjutkan untuk perawatan luka, diet DM, kebersihan ruangan ibu C, kunjungan rumah untuk mengontrol gula darah




BAB 4
PEMBAHASAN


Pada tahap pengkajian asuhan keperawatan keluarga, merupakan tahap yang tidak mudah dilakukan. Hal tersebut disebabkan oleh karena keluarga merupakan bagian dari masyarakat yang hidup dalam suatu komunitas tertentu dengan berbagai latar belakang baik budaya, ekonomi, social, pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, umur, agama dan sebagainya. Setiap latar belakang tersebut akan mempengaruhi keluarga dalam penerimaan, kesadaran, kemampuan khususnya dalam bidang kesehatan dan keperawatan.
Terkadang faktor-faktor tersebut di atas dapat mendukung kesehatan bahkan dapat juga menghambat tercapainya kesehatan yang optimal, misalnya saja pengetahuan. Apabila keluarga mempunyai pengetahuan yang tinggi tentang kesehatan dan keperawatan, maka keluarga akan dapat dengan mudah mengenali masalah kesehatan, memutuskan tindakan, memelihara kesehatan anggota keluarga dan dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan sebagai rujukan apabila penanganan di rumah tidak menunjukkan hasil. Namun apabila pengetahuan keluarga rendah maka fenomena di atas akan terjadi sebalikya.
Pada saat pengkajian di keluarga, perawat juga dapat mengalami kesulitan BHSP (Bina hubungan saling percaya). Apabila perawat tidak dapat melakukan pendekatan kepada keluarga dan berhasil maka keluarga dapat terbuka dengan perawat pengkajian dapat dilaksanakan dengan lancar, namun apabila hubungan saling percaya tidak dibina maka pengakajian mengalami kesulitan.
Di samping itu pengkajian keperawatan keluarga terkadang tidak dapat dilaksanakan sekaligus pada satu waktu, yang diartikan tidak dapat selesai dalam waktu satu (1) hari. Hal tersebut dikarenakan keluarga terkadang disibukkan oleh kegiatan rumah tangga, bekerja sehingga pada saat perawat melakukan pengkajian, hanya mempunyai waktu beberapa saat. Sehingga pengkajian dilanjutkan pada hari berikutnya.
Pada format pengkajian, perlu pendataan tentang riwayat imunisasi anak. Terkadang muncul fenomena bahwa orang tua sering lupa tentang riwayat imunisasi anaknya atau KMS (Kartu Menuju Sehat) hilang maka pengkajian riwayat imunisasi tersebut tidak lengkap. Di samping itu perlu pendataan silsilah keluarga dalam bentuk genogram, namun terkadang mendapatkan kesulitan dalam pelaksanaannya, misalnya keluarga tidak dapat mengingat umur anggota keluarganya, tidak dapat mengetahui penyakit keturunan yang diderita oleh salah satu anggota keluarganya. Sehingga genogram tidak dapat terdokumentasi lengkap dimana minimal terdokumentasi 3 generasi.
Adapun kelebihan Teori transkultural dalam aplikasinya antara lain ::
1. Data yang didapatkan lebih lengkap dan mengena karena lebih mendekatkan pada pengkajian transkultural atau budaya yang merupakan bagian dari latar belakang keluarga
2. Pengkajian pada askep keluarga lebih spesifik dan lebih jelas karena diarahkan ke spesifikasi teori tertentu
3. Adanya sumber data memperkuat dan memperlengkap pemahaman tentang asuhan keperawatan keluarga.
4. Memfasilitasi keluarga mengenali lebih jauh kesehatan keluarga dan penanganannya
Adapun keluarga Kekurangan Teori transkultural antara lain :
1. Perlu waktu yang lebih lama karena perlu menggali data dari beberapa sumber
2. Jika hanya berdasarkan tinjauan teoritis, data perkembangan kultur atau budaya tidak terkaji dan tidak dapat mendapatkan dapat yang mendekati latar belakang keluarga
3. Pada keluarga dengan kultur yang kuat dan keluarga berusaha untuk mempertahankan budayanya dimana kultur tersebut bertentangan dengan kesehatan maka intervensi perawat akan menemukan kesulitan untuk bernegosiasi dan merestrukturisasi budaya.


BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. KESIMPULAN
1. Keperawatan transkultural adalah ilmu dan kiat yang humanis, yang difokuskan pada perilaku individu atau kelompok, serta proses untuk mempertahankan atau meningkatkan perilaku sehat atau perilaku sakit secara fisik dan psikokultural sesuai latar belakang budaya
2. Tujuan penggunaan keperawatan transkultural adalah untuk mengembangkan sains dan pohon keilmuan yang humanis sehingga tercipta praktik keperawatan pada kultur yang spesifik dan universal
3. Asuhan keperawatan keluarga dengan pendekatan Transkultural akan mendapatkan data yang lebih lengkap dan mengena karena lebih mendekatkan pada pengkajian budaya yang merupakan bagian dari latar belakang keluarga

5.2. SARAN
1. Perlu penambahan data pengkajian budaya /transkultural pada pengkajian asuhan keperawatan keluarga
2. Perlu modifikasi bentuk format terutama untuk keluarga dengan latar belakang budaya yang kental yang dapat mempengaruhi kesehatan dan keperawatan








DAFTAR PUSTAKA


Asuhan keperawatan keluarga dengan pendekatan keperawatan transkultural
Sudiharto
Jakarta : EGC
2007
Pengantar keperawatan kesehatan keluarga ( Teori dan Praktek )
Ali, Zaidin
Depok : Raflesia
1999
Perawatan kesehatan keluarga : Suatu proses
Bailon, Salvicion G.
Philippines : S.G. Bailon
1978
Pedoman Keperawatan di Rumah
Hastings, Diana
Jakarta : EGC
2005
Asuhan keperawatan keluarga : Aplikasi dalam praktik
Suprajitno
Jakarta : EGC
2004
Keperawatan keluarga : Teori & Praktik
Friedman , Marilyn M.
Jakarta : EGC
1998
Perawatan kesehatan keluarga
Dep.Kes RI
Jakarta : Dep.Kes RI
1996
Penjabaran delapan fungsi keluarga
BKKBN
Kediri : BKKBN
1995
Perawatan di Rumah
Hasting, Diana
Jakarta : Arcan
1995
Panduan kesehatan keluarga
Dep. Kes RI
Jakarta : Yayasan Essentia Medica
1995

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar